IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
Forum Santri Indonesia
Terimakasih Atas Kunjungan Anda Dikomunitas ini
Alhamdulillah
Akhirnya Forum Santri Indonesia Punya Domain dan hosting yang berbayar,
Kami Selaku Pengurus FSI mengundang anda untuk berpatisipasi di FSI

Dengan Alamat http://www.forumsantri.com


Tdd         : Admin

Masukan Sumbangan Anda Disini
Forum Santri Indonesia
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Latest topics
» 17 Tahanan Tewas Dalam Kerusuhan di Penjara Meksiko
Tue Dec 30, 2008 5:44 pm by santri

» Salam kenal
Mon Dec 29, 2008 5:05 pm by Admin

» Assalamualaikum....
Mon Dec 29, 2008 12:20 pm by yusufsatya

» TES TOEFL GRATIS
Thu Dec 18, 2008 12:02 pm by Admin

» VIRUS PALING BAHAYA
Thu Dec 18, 2008 10:24 am by jufri

» salam kenal
Thu Dec 18, 2008 9:48 am by jufri

» PDF2Office Professional ver4.0 Incl. Serial
Fri Dec 05, 2008 11:23 am by Admin

» asalaam mualaikum
Tue Nov 25, 2008 10:24 pm by dja

» Pembentukan Karakter
Tue Nov 25, 2008 10:12 pm by dja

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Statistics
Total 26 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah santri

Total 61 kiriman artikel dari user in 29 subjects
Top posters
Admin
 
SimpleMan
 
big2besar
 
MULKAN
 
santri_kalong
 
jufri
 
ruwah
 
latan_sa
 
dja
 
yusufsatya
 

Share | 
 

 HAKEKAT TASAWUF

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
big2besar
Santri Baru
Santri Baru
avatar

Jumlah posting : 8
Lokasi : Kota Cinta
Registration date : 22.10.08

PostSubyek: HAKEKAT TASAWUF   Wed Oct 22, 2008 11:35 pm

Dalam berbagai buku teks tasawuf, kata ini biasanya dirujukan kepada beberapa kata dasar, seperti Shaff (baris, dalam shalat), karena dianggap kaum sufi berada pada shaff pertama. Atau shuff, yaitu bahan wol atau bulu domba kasar yang biasanya pakaian kaum sufi.

Atau juga ahl al shuffah, yakni para zahid (pezuhud) dan zahid (ahli ibadah) yang tak punya rumah dan tinggal di serambi masjid Nabi. Ada juga yang mengaitkannya dengan nama suku Badui yang memiliki gaya hidup sederhana, yakni Bani Shufa.

Ada juga yang mengaitkan dengan asal muasal istilah ini dengan sophon atau sufin, yang bermakna pelayanan kegerajaan (kerahiban).

Jabir ibn Hayyan, seorang alkemis yang sering disebut sebagai murid Imam Ja’far Shadiq, dikatakan mengaitkan istilah ini dengan shufa, yang bermakna penyucian sulfur merah.

Menurut Abdul Qadir Al Suhrawardi, ada lebih seribu lebih defenisi istilah tashawwuf. Tapi pada umumnya, berbagai defenisi istilah ini, mencakup atau mengandung makna shafa (suci), wara (kehati-hatian ekstra untuk tidak melanggar batas-batas agama).

Dari semua rujukan itu, semua sepakat bahwa kata ini terkait dengan akar shafa yang berarti suci, yang pada gilirannya akan bermuara pada ajaran Al Quran tentang penyucian hati.

“Demi nafs dan penyempurnaan (penciptaan)-Nya
…telah berjayalah orang-orang yang menyucikannya. Dan telah gagallah orang-orang yang mengotorinya”.(QS Al Syam [91]:7-10)

Kata menyucikan (zakka) yang dipakai ayat di atas berasal dari akar kata yang juga membentuk salah satu ungkapan kunci tasawuf, yaitu tazkiyah al nafs (penyucian jiwa).

Lebih jauh dari itu, dalam kosa kata tasawuf, istilah ini biasa disinonimkan dengan tashfiyah, sebuah kata benda bentukan (mashdar) dari kata shafa.

Dapat disimpulkan, pada dasarnya tasawuf adalah upaya para ahlinya untuk mengembangkan semacam disiplin (riyadhah), spiritual, psikologis, keilmuan dan jasmaniah, yang dipercaya mampu mendukung proses penyucian jiwa atau hati seperti yang diperintahkan dalam Al Quran.

Hadis Nabi Muhammad Saw, yang sangat popular berbunyi “Di dalam diri manusia ada segumpal organ. Jika baik organ tersebut, maka baiklah semua diri orang itu. Dan jika buruk organ itu, akan buruklah semua diri orang yang memilikinya. Organ tersebut adalah hati”.

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad Saw bersabda,”Jika seorang mukmin melakukan keburukan, maka muncullah titik hitam dalam hatinya. Jika terus menerus melakukan keburukan, maka akan banyak titik hitam yang melekat di hatinya”.

Jika demikian, pada akhirnya hati orang seperti itu akan tertutupi dengan lapisan hitam, yang akan menghalanginya dari cahaya Allah Swt (sesungguhnya cahaya Allah Swt selalu siap menyinari hati setiap manusia).

Tasawuf, seperti yang diterangkan di atas, adalah suatu upaya (metode, disiplin) untuk menaklukan al nafs al ammarah bi al su (nafsu yang mendorong-dorong untuk melakukan keburukan) agar kita terhindar dari keadaan hati yang berdaki.

Apakah dengan berprinsip beribadah semampu kita, lalu kita biarkan hati menjadi berdaki, yang menghalangi cahaya Allah Swt ?
Tentu tidak, Nabi Muhammad Saw, pernah shalat hingga kakinya bengkak-bengkak (apakah Nabi shalat melebihi kemampuan dirinya ?)

atau Dengan bertasawuf, kita harus menyingkirkan dunia (tidak mencari kekayaan)?
jawabannya tidak, karena banyak para sufi (yang melaksanakan tradisi tasawuf) yang hidup makmur dengan kekayaan yang melimpah.

Tasawuf ialah bentuk kebajikan spiritual dalam Islam yang dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan syariat Islam.

Jalan-jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf dikembangkan dengan tujuan membawa seorang sufi menuju pencerahan batin atau persatuan rahasia dengan Yang Satu.

Jadi tasawuf sebenarnya adalah metode yang dianut dan diyakini oleh kelompok yang bernama "Sufi" dalam memahami, menjalankan dan penelusuran rohani dari agama Islam.

Maka, tasawuf pada hakekatnya bukanlah suatu ibadah atau hukum yang mempunyai dalil dalam struktur agama Islam. Tasawuf lebih merupakan cara memahami dan menghayati agama, sebagaimana cara dan metode yang dilakukan oleh kelompok lain dalam Islam.

Smile


Terakhir diubah oleh big2besar tanggal Wed Oct 22, 2008 11:45 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
big2besar
Santri Baru
Santri Baru
avatar

Jumlah posting : 8
Lokasi : Kota Cinta
Registration date : 22.10.08

PostSubyek: Re: HAKEKAT TASAWUF   Wed Oct 22, 2008 11:44 pm

GLOSARIUM DALAM TASAWUF


Dzauq :
indra “batin” untuk merasakan pengalaman spritual langsung. kadang diindentikan dengan hati, intuisi atau intelek sebagai akal dalam tingkat tertinggi.

Fanà :
Penyatuan diri atau person kemanusian dalam (kebersatuan dengan ) Allah. Inilah “hilangnya” batas-batas individu dalam keadaan kesatuan. Faná dan faná al faná (fananya fana) sebagai tahap lanjutnya sering disebut sebut sebagai tahap akhir dalam kenaikan (mi’ráj) menuju Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Hâl (jamak, Ahwâl) :
Keadaan – keadaan spritual. Ini adalah anugerah dan karunia Allah kepada para penempuh jalan spiritual. Berbeda dengan maqâm yang merupakan keadaan relatif stabil dan permanen, keadaan-keadaan ini hanya berlangsung sesaat.

Hubb (atau Mahabbah atau ‘Isyq)
Cinta bentuk hubungan tertinggi antara manusia dengan Allah. Yang mana âsyiq (manusia pencinta) bersatu dengan San Ma’syûq ( Sang Pencinta atau Allah). Cinta ini juga adalah prinsip penciptaan alam semesta yang tak lain merupakan pengungkapan diri Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Al Jihâd al akbar:
Jihad besar. Ini merupakan perjuangan batin terus menerus dan penuh kewaspadaan melawan kejahilan atau kebodohan, hawa nafsu, dan sifat-sifat tercela dari jiwa yang rendah yang menjauhkan manusia dari Allah.

Ma’rifah :
Cahaya pengetahuan yang diberikan pada hati siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Maqâm (jamak, maqâmât) :
Kedudukan spritual. Sebuah maqâm diperoleh dan dicapai melalui upaya dan letulusan sang penempuh jalan spritual (sâlik), mujâhadah (upaya keras) dan riyâdhah (latihan-latihan spritual) namun perolehan ini pada puncaknya dipercayai bisa terjadi berkat rahmat Allah.

Mujâhadah :
Perjuangan dan upaya spritual melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa rendah (nafs).

Al nafs al ammârah bi al sû :
Nafsu yang terus menerus, mendorong ke arah keburukan.

Nafs :
Ego, diri atau jiwa. Terkadang Nafs diartikan sebagai dimensi batiniah manusia yang berada di antara ruh (rûh), dan jasmani (jism). Dalam tingkat al nafs al muthma’innah ia identik dengan rûh.

Riyâdah :
Disiplin spiritual dalam bentuk asketisme atau latihan kezuhudan (berpantang)

Sulûk :
Perjalanan di jalan spiritual menuju Sang Sumber. Kadang identik dengan tasawuf.

Tajallî :
Penyikapan diri. Berarti Allah menyikapkan (mengejewantahkan) diri-Nya sendiri dalam makhluk-Nya.

Tasawuf :
Pencapaian karakter (akhlak) mulia melalui penyucian hati.

Tharîqah :
Jalan spiritual yang harus ditempuh oleh seorang pejalan (sâlik) menuju hakikat (haqîqah).

Wara :
Berhati-hati untuk tidak melanggar batas hukum (ajaran agama)

Zuhd (zuhud) :
Sikap hidup menjauhkan diri atau berpantang diri dari apa – apa yang bersifat keduniaan, bahkan terkadang dari yang diperbolehkan (mubâh), karena khawatir melanggar batas.

Tambahan :
sufi mengindentikan tasawuf dengan ihsan (beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, atau kalau engkau tak dapat melihat-Nya, percaya bahwa Dia melihatmu). artinya Tasawuf pada intinya beribadah kepada Allah.

Hanya saja dalam tasawuf penekanan ibadah tidak hanya semata- mata gerakan-gerakan phisik kosong, melainkan penuh khusyu dan khudhu, yaitu menghadirkan hati dan penuh kerendahan di hadapan Allah Swt.

Dalam tasawuf, sholat merupakan mi'rajnya kaum mukmin, bahwa shalatlah yang bisa membawa seseorang bertemu dengan Allah Swt.

Syari'at merupakan landasan tasawuf (thariqah), sedang thariqah adalah jalan menuju hakikat (haqiqah atau kebenaran sejati).

Smile
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
HAKEKAT TASAWUF
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 :: MAJELIS DAYAH :: Ilmu Tasawuf-
Navigasi: